Jalan
hidup tak ubahnya seperti sirkuit. Tidak selamanya lurus dan mulus.
Tidak selamanya pula curam dan berliku. Bagi sebagian orang, jalan
berliku menjadi momok tersendiri yang mengharuskan mereka bergelut
dengan setiap likuan. Beberapa dari mereka menginginkan jalan hidup yang
lurus, tanpa belokan. Ya, hampir semua orang menginginkan jalan hidup
seperti itu. Lalu untuk apa gunanya tikungan atau belokan?
Sebelum lebih lanjut saya punya pertanyaan untuk Anda. Jika Anda
sedang mengendarai motor di jalanana yang lurus, kemudian 10 meter di
depan Anda terdapat tikungan, apa yang akan Anda lakukan? Melewati
tikungan tersebut dengan kecepatan penuh tanpa harus ngerem? Atau
mengurangi kecepatan motor dan ngerem disaat melewati tikungan
kemudian menambah kecepatan setelah melewatinya? Jika Anda menjawab yang
pertama saya katakan Anda Hebat. Karena sekelas Valentino Rossi pun
dalam setiap balapannya belum pernah melakukan aksi seperti jawaban
pertama yang Anda pilih tadi. Hehehe
Dari pertanyaan tadi kita bisa menangkap benang merahnya untuk
membedakan antara bersegera dengan terburu-buru. Jawaban pertama tadi
termasuk kedalam terburu-buru. Bisa jadi kita dengan cepat sampai ke
tujuan, tapi keselamatan kita bahkan keselamatan orang lain bisa
terabaikan. Karena kita melakukannya nyaris tanpa perhitungan dan hal
itu tentu saja merugikan diri kita dan orang lain. Sementara jawaban
kedua tadi termasuk kedalam bersegera. Dalam berbuat kebaikan, hendaknya
kita harus bersegera tapi tidak terburu-buru. Dalam melewati tikungan
hidup, hendaknya kita harus punya perhitungan tersendiri. Untuk apa?
Supaya tidak bablas dan mencelakakan orang. Jangan sampai asal main
sikat, main embat, yang penting cepat tamat tapi membuat orang lain
kumat.
Ibarat tikungan tadi. Kita ibaratkan jalan lurus yang sedang kita
lalui itu sebagai jalan hidup kita saat ini. Sedangkan tikungan itu
ibarat ujian hidup kita. Memang terasa berat melewatinya dan terasa
lambat dijalaninya. Butuh perhitungan, konsentrasi, dan kendali yang
prima dalam melewati tikungan tersebut. Begitupun ujian hidup. Tapi
bukankah setelah kita melewati tikungan nanti, kita bisa menambah
kecepatan lagi?

Tentunya cara tersebut lebih aman dilakukan ketimbang cara pertama tadi.
Jika saat ini karir, passion, atau skill kita sedang mandeg atau
buntu, bisa jadi kita sedang melewati tikungan hidup. Memang terasa
lambat dan harus mengurangi kecepatan kita sebelum benar-benar melewati
tikungan tersebut. Tapi setelah melewatinya, kita pun bisa menambah
kecepatan kita seperti semula. Kuncinya, jangan terburu-buru dalam
melakukan segala hal. Bersegara Ya, terburu-buru No. Dan pastikan kita
punya perhitungan sebelum melakukan hal yang bisa merugikan orang lain.
Fazar Firmansyah
www.jamilazzaini.com
ADS HERE !!!